Apa itu Electronize ?

Electronize adalah sebuah website atau alat yang digunakan untuk menentukan nilai resistansi suatu resistor dengan menafsirkan pita warna yang biasanya ditemukan pada badan resistor.

About Us

Siapa Kami ?

Perkenalkan kami dari kelompok 2 yang beranggotakan Nanda, Nayla, dan Zaky. Kami membuat Electronize untuk memudahkan proses penghitungan nilai resistor sesuai dengan pita yang tercantum pada resistor tersebut

For Your Information

Tahukah Kalian Sejarah
dari Resistor ?

Resistor merupakan alat yang sangat berguna di dunia teknologi saat ini. Cara kerja dari resistor sendiri berlandaskan dengan hukum Ohm. Yakni hukum fisika mengenai hambatan listrik yang ditemukan oleh George Simon Ohm (1789-1854). Ohm menggunakan sebuah prototype yang secara sederhana terdiri dari galvanometer, sebuah sumber elektrik (air panas dan dingin), serta 2 buah kabel / lempengan logam yang berbeda (bismuth dan tembaga).

Berdasarkan hasil tersebut terdapat hukum ohm yang menyatakan bahwa :
“Intensitas listrik (arus listrik) akan lebih besar jika menggunakan kabel yang lebih besar ketimbang kabel yang lebih kecil dan juga intensitas tersebut akan lebih besar juga jika kabel tersebut lebih pendek ketimbang yang panjang. Selain itu jenis kabel yang berbeda juga akan mempengaruhi besar intensitas listrik tersebut dikarenakan suatu penghambat (resistant) tertentu”

Dari situlah muncul istilah resistansi / hambatan muncul. Tidak lama dari itu beberapa ilmuwan lain menggunakan dan mereplika percobaan Ohm, serta memperbaruinya. Di antara ilmuwan tersebut adalah Galvani dan Ampere. Akibat merekalah akhirnya terbit suatu rumus yang kita kenal sekarang sebagai ohm’s law (dinamai seperti itu karena dialah yang mendasari rumus tersebut) yang kemudian disempurnakan oleh Galvani dan Ampere menjadi :


V = I * R

Pada saat itu kata voltase (V) sudah diketahui dan Ohm sendiri tidak mengetahui jikalau kata voltase diambil dari nama penemunya, yang dia tau itu hanyalah sebutan untuk tegangan/beda potensial listrik, begitu juga bagaimana ia mengetahui tentang intensitas listrik merupakan ajaran dari ayahnya (Johann Wolfgang Ohm) yang merupakan ahli reparasi gembok dan kunci di Universitas Goethe. Ia begitu gigih dan mau otodidak mempelajari fisika, kimia dan matematika untuk diajarkannya kepada anaknya George S. Ohm.

Gambar George S. Ohm bereksperimen dengan aparatusnya


Gambar Perkembangan resistor dari tahun 1843 hingga 1960

Berangkat dari hukum ohm / ohm’s law itulah, banyak bermunculan bermacam tipe resistor/penghambat yang diproduksi oleh para ilmuwan dan juga pengusaha komponen elektronik, yang padahal sebelumnya pengaturan hambatan dilakukan dengan memanfaatkan panjang kawat atau tali logam dalam rangkaian. Contoh perkembangan tersebut ialah Rheostat atau tipe resistor yang bisa diatur nilainya diciptakan oleh Sir Charles Wheatstone pada tahun 1843. Kemudian 4 tahun setelahnya beberapa industri ada yang memproduksi resistor berbahan dasar karbon, yakni perusahaan Siemens & Halske yang memperkenalkan kepada kita sistem penghitungan nilai hambatan menggunakan warna pada pitanya.

Adapun dalam resistor karbon terdapat beberapa indikator/pita yang diberikan industri sebagai penanda untuk menghitung nilai hambatan/resistan pada resistor tersebut. Berikut ini merupakan tipe-tipe resistor yang berpita tersebut :

  • Resistor Berpita 4 (4-Band Resistor):
  •  Resistor berpita 4 memiliki empat pita warna, yang menyediakan informasi tentang nilai hambatan dan toleransi. Tiga pita pertama menunjukkan nilai numerik dari hambatan, sementara pita keempat menunjukkan toleransinya. Pita warna pertama dan kedua mewakili digit pertama dan kedua dari nilai hambatan dalam kode warna. Pita warna ketiga menunjukkan faktor pengali atau jumlah nol tambahan dalam nilai hambatan. Pita warna keempat adalah toleransi, yang menunjukkan batas toleransi hambatan resistor.

  • Resistor Berpita 5 (5-Band Resistor):
  •  Resistor berpita 5, seperti namanya, memiliki lima pita warna. Selain menyediakan informasi tentang nilai hambatan dan toleransi, pita warna tambahan pada resistor ini memberikan informasi tentang koefisien temperatur. Tiga pita pertama tetap menunjukkan nilai hambatan, pita keempat menunjukkan toleransi, dan pita kelima menunjukkan koefisien temperatur. Koefisien temperatur mengindikasikan bagaimana nilai hambatan resistor akan berubah seiring perubahan suhu.

  • Resistor Berpita 6 (6-Band Resistor):
  •  Resistor berpita 6, atau resistor presisi, memiliki dua pita tambahan dibandingkan dengan resistor berpita 5. Dua pita tambahan ini membawa informasi tambahan tentang nilai hambatan. Pita keenam menunjukkan toleransi, sementara pita kelima memberikan informasi tambahan tentang nilai hambatan. Dengan demikian, resistor berpita 6 memberikan tingkat presisi yang lebih tinggi karena memberikan detail yang lebih rinci tentang nilai hambatan dibandingkan dengan resistor berpita 4 atau 5.


Kemudian seiring berkembangnya zaman dan berkembangnya komputer, resistor karbon mulai jarang diminati, dikarenakan ukurannya yang terlalu besar dan pemasangannya hanya bisa pada papan sirkuit yang berlubang. Sehingga akhirnya pada tahun 1960, perusahaan mancanegara yakni IBM (International Business Machines) memproduksi “Thick Film Resistor & Thin Film Resistor” dan mengenalkan SMT (Surface-mount Technology), perangkatnya dinamakan SMD (Surface-mount Device). Yang mana SMT merupakan metode pemasangan Thick/Thin film resistor (dikenal juga sebagai SMD Resistor) pada PCB (Printed Circuit Board) secara langsung disolder, tanpa harus melubangi papannya atau memotong lebihan kawat seperti pada resistor karbon.



Tampilan

×

© 2023 Website WDW - Semua Hak Terjaga